Sampingan

Detektif Ala Pelajaroleh:rhystu anggi   “Ada komik detektif yang

Detektif Ala Pelajar

oleh:rhystu anggi

 

  “Ada komik detektif yang terbaru gak?”

  “Gak ada Fi.” jawab Tata  sambil terus membaca buku yang ada di tangannya.

  “ Terus itu apa.? pasti novel cinta-cintaan.” cetus Ifi.

  “Judulnya Omen, ceritanya tentang pembunuhan berantai githu, mau? Ya pastilah, kamu kan sukanya yang serem-serem dan menantang.”

  “Boleh juga, cepetan selesain gih!”

          Begitulah keseharian 2 orang gadis yang mempunyai selera buku yang sama. Tentu saja tentang detektif ataupun pemecahan suatu misteri. Yaps.. bukan buku milik mereka sendiri tentunya, mereka bukanlah anak yang suka menghabiskan uang demi sesuatu yang hanya sekali pakai seperti komik misalnya. Lebih baik meminjam di penyewaan daripada membelinya dan tentu harus merawat buku itu.

  “Ta, kamu tahu Sherlock Holmes? Si detektif keren yang sering aku ceritakan itu lho.” tanya  Ifi.

  “Tokoh novel terjemahan yang tebel itu?”

  “Ho’oh, Juwi punya filmnya lho. Katanya lebih bagus filmnya daripada novelnya. Lihat yuk!”

  “Mana filmnya? Paling kamu belum minta ke dia.” cetus Tata.

  “Hehehe belum minta sih, aku kan gak punya flash disk.”

  “Gak punya flashdisk atau kamu mulai kemarin lupa minta filmnya?”

  “Dua-duanya sih, kamu aja deh yang minta.” rayu Ifi.

  “Dasar nenek-nenek pelupa…” tambah Tata.

          Cara berpikir kedua gadis ini rupanya sudah terseret oleh buku-buku detektif yang sering mereka baca. Bergaya sok detektif dan menyelesaikann hal sepele dengan gaya berlebihan pun sering mereka lakukan. Mulai dari yang terpecahkan hingga yang tidak dapat terpecahkan. Tapi memang lebih banyak misteri yang tidak terpecahkan sih. Seperti memecahkan misteri isi dari laci di meja guru yang terkunci sedangkan yang lainnya tidak atau menemukan kebenaran tentang arwah cewek yang terus mengikuti guru Bahasa Jerman mereka. Bahkan lebih banyak lagi misteri yang tidak pernah terpecahkan oleh mereka. Namun hal itu tidak mematahkan semangat detektif mereka.Tata yang begitu supel dan Ifi yang begitu terperinci membuat mereka dapat memecahkan beberapa misteri. Seperti misteri tulisan corat-coret di kertas scenario syuting kelas misalnya. Karena Tata si miss supel, mereka bias tau siapa yang menulis dan untuk siapa tulisan itu dan karena Ifi si miss detail, mereka bias membaca dan mengartikan tulisan yang sudah terhapus dan dicorat-coret itu.

          Sudah beberapa bulan ini mereka tidak beraksi. Pekerjaan mereka hanya membaca novel atau komik saja. Hidup mereka begitu datar dan tidak ada kebanggaan tersendiri karena tidak ada misteri yang perlu dipecahkan lagi. Mungkin mereka terlalu berlebihan menyikapi suatu hal, tapi disitulah kenikmatan yang didapat. Terutama ketika mendapat informasi baru yang berasal dari pencarian kita sendiri, pasti akan memunculkan rasa puas. Begitulah mereka.

  “Aku bunuh kau!! Aku bunuh kau!!”

“aaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaa aaaaaaaa” teriak anak-anak satu kelas.

  “Apa’an sih? Ganggu orang tidur aja.” gumam Ifi.

  “Hei. Jangan tidur lagi, ada anak marah tuh.”

  “Siapa sich? Aku udach nyampek Jakarta lho ini tadi.”

  “Emank kamu doang, aku juga tau!” balas Tata.

  “Kayaknya aku tau orangnya deh. Nilam ya?”

  “Ya jelas kamu tau, orang dia lagi dikerumuni sama anak-anak.”

  “Iya juga ya..” aku Ifi malu-malu.

   “Liat yuk, siapa tau ada misteri yang sedang menunggu untuk dipecahkan.” ajak Tata.

          Tidak jelas apa yang sedang terjadi waktu itu. Nilam teman sekelas mereka yang memang terkenal pendiam itu tiba-tiba saja marah dan mengancam akan membunuh siapapun yang mengejeknya sekecil apa pun itu. Tapi yang jelas, insting detektif itu muncul kembali dan mendesak mereka berdua agar segera menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.

          Sudah sekitar seminggu Nilam tidak masuk sekolah. Surat ijinnya mengatakan bahwa ia sakit. Jadi, Ifi mempunyai ide untuk menjenguknya bersama teman-teman satu kelas. Tapi ternyata hanya Tata yang menanggapi dan mau untuk ikut kerumah Nilam. Tidak masalah, yang penting mereka mau iuran untuk membelikan Nilam sesuatu saja sudah sangat cukup bagi Ifi dan Tata.

          Sepulang sekolah, mereka langsung pergi ke rumah Nilam, tapi sebelumnya mereka mampir untuk membeli buah tangan untuknya terlebih dahulu. Sebenarnya, mereka tidak tahu pasti dimana rumah Nilam. Jadi, ketika sampai di daerah yang dimaksud, mereka sedikit bingung menemukan rumahnya dari deretan rumah bergaya antik yang sebenarnya tidak terlalu padat itu.

          Sesampainya di rumah Nilam mereka tidak merasakan hal-hal yang aneh. Semua anggota keluarga Nilam menyambut kita dengan ramah dan senyuman selebar mungkin. Sebenarnya apa yang membuat Nilam begitu aneh dan histeris? Keluarga? Tidak mungkin bila melihat keluarga seramah itu. Begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab di benak Tata dan Ifi. Bukan hanya itu, pertanyaan mereka semakin besar saja ketika Nilam tidak muncul juga. Memang menunggu bukanlah hal yang menyenangkan. Mereka berdua Cuma bias menngamati gaya rumahnya yang sangat sederhana. Akan tetapi rumah itu dipenuhi dengan karya seni hasil karya anggota keluarga itu sendiri. Mulai dari pintu hingga dinding dipenuhi dengan coretan-coretan warna yang tersusun rapi.

          Hanya ada kita berdua di ruang tamu. Hening. Namun keheningan itu musnah ketika terdengar suara teriakan-teriakan yang berasal dari dalam ruangan. Teriakan itu diikuti dengan ayah Nilam yang berlari menuju ruangan itu. Ifi dan Tata hanya bisa saling menatap satu sama lain tanpa berkomentar. Ingin rasanya mereka ikut berlari dan melihat apa yang terjadi. Tapi mereka memutuskan untuk tetap diam di tempat dan kembali meneguk minuman yang telah di sediakan. Tidak lama kemudian, ayah Nilam keluar dan bilang “kumat mbak,” dalam bahasa jawa.

  “Jangan-jangan kejadian yang dikelas terulang kembali.” kata Tata.

  “Aku juga mikir gitu, tapi jujur saja ya, aku tidak terlalu percaya dan yakin.”

  “Sebenarnya aku juga sih Fi.”

  “Kalau gitu, setelah ini kita pulang dan menyelidikinya.” Ajak Ifi.

          Ketika mereka memutuskan untuk pulang, tiba-tiba Nilam keluar menghampiri mereka dengan langkah yang tergopoh-gopoh bersama ayah dan ibunya. Yang tercerminkan dibenak Ifi dan Tata adalah dia bukan sakit biasa. Setelah sekian lama berbincang dengan orang tua Nilam yang kelihatannya sangat menyayangkan keadaan Nilam yang sekarang, mereka memutuskan untuk segera pulang.

  “Ya udah tante, kita pamit pulang dulu ya, sudah sore nih kasian Ifi rumahnya jauh dari sini.”

  “oh silahkan nak, hati-hati dijalan ya.”

          Selangkah demi langkah mereka lalui dari pintu rumah Nilam dengan gumaman-gumaman pemecahan masalah.

  “Kamu tau nggak ciri-ciri orang yang menderita syndrome seperti Nilam?” Tanya Tata.

  “Suara berubah ketika kambuh, pandangan mata kosong dan bicaranya ngawur. Tapi Nilam tadi…”

  “Ternyata kamu juga tau, tapi kenapa orang tuanya tidak sadar akan hal itu?”

  “Mereka kan orang awam, dan pendidikan mereka juga tidak terlalu tinggi.”

  “Jadi……” kata mereka bersamaan.

          Mereka langsung berlari kembali kerumah Nilam dan menemukan Nilam sedang menonton TV sendirian. Untunglah keteledoran Ifi sangat membantu kali ini. Seperti biasa, kunci sepeda motor mereka tertinggal di ruang tamu, itu bisa di andalkan sebagai alasan untuk kembali masuk dan memergoki Nilam.

  “Apa yang kalian lakukan disini.?? Bukannya tadi sudah pulang?” tanya Nilam ramah.

  “Biasalah, si Ifi teledor nih, kunci motor kita ketinggalan.”

  “Tapi kan ada untungnya juga.” cetus Ifi bangga.

  “Bisa diam gak?” kata Tata.

  “uups keceplosan, ma’af Ta.” jawab Ifi.

  “Ada apa sich ini? Aku gak ngerti deh.”

  “Sebenarnya, kamu itu kenapa sich? Sakit? Kok sakitnya aneh.” tanya Tata.

  “Aku juga gak tau, kalau ada anak yang membuat perasaanku terganggu, aku langsung kambuh dan histeris. Tapi aku tidak tahu.” jawab Nilam.

  “Kalau aku bilang kamu bohong, penipu dan pinter acting gimana?”cetus Ifi.

  “Maksud kamu apa Fi?”

  “Ya kamu adalah artis baru di sekolah dan di lingkungan rumahmu.” tambah Ifi.

          Entah apa yang Ifi dan Tata rencanakan. Mereka terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang aneh. Tapi Nilam menanggapinya dengan santai dan menjawabnya dengan sedetail mungkin.

  “Aku juga tidak tau kenapa itu terjadi dan setelah sadar, aku tidak mengingat segala sesuatu yang telah terjadi.” jelas Nilam.

  “Kamu memang artis yang sangat luar biasa.”kata Tata.

  “Sekarang aku tahu maksud kalian, kalian menuduhku berpura-pura. Tapi aku beneran sakit.!”

  “ Oh ya?? Terus kenapa sekarang kamu tidak kambuh? Udah sembuh? Cepet banget.” cetus Ifi.

  “Yaa aku.. sekarang lagi gak kepikiran atau marah. Lagian kamu tau darimana kalau aku cuma pura-pura?”

  “Dari gaya ngomong kamu ketika kambuh sama seperti gaya bicara yang seperti biasa, pandangan kamu tidak kosong dan masih terarah dengan baik. Itu dapat dilihat dari cara kamu memandang. Pupil matamu tidak tetap melainkan membesar dan mengecil, itu berarti kamu berusaha mengontrol pandanganmu agar terlihat kosong. Dan dari segi suara, suara orang yang memiliki syndrome tersebut jika kambuh akan berubah menjadi lebih kecil atau lebih besar, tapi suaramu ketika kambuh cenderung di lantangkan dan terkadang di tahan agar terdengar berbeda dari biasanya. Itu terlihat dari nada suaramu yang kadang terdengar fales ketika mulai menggeram sebelum berteriak sedangkan suara geraman yang benar adalah serak bukan besar cenderung fales. Dan yang paling memperkuat alibi kami adalah kamu tidak benar-benar pingsan ketika kambuh. Orang yang pingsan, akan terjatuh ke posisi depan, belakang atau ke kiri karena bagian tubuh sebelah kiri lebih lemah dari bagian kanan dan tidak dapat menopang tubuh. Tapi kamu malah sering jatuh ke sebelah kanan dan kenapa kamu tidak memilih depan atau belakang? Jawabannya adalah kamu takut menanggung resiko sakit ketika jatuh pingsan. Masih kurang?” jelas Ifi.

  “Tapi hal itu sangat bodoh dan kenapa aku harus melakukan hal itu?”

  “Jawabannya sangat mudah. Itu karena kamu ingin mendapat perhatian dari semua orang. Karena faktanya, kamu jarang dan hampir tidak pernah dihiraukan oleh teman-temanmu. Jadi kamu melakukan hal ini untuk mendapat simpati dari teman-temanmu. Selain itu, kamu juga tidak mau ada yang merendahkanmu di segala bidang. Setiap ada anak yang membicarakan kamu, kamu langsung kambuh dan marah bahkan mengancam untuk membunuh mereka. Itu semua kamu lakukan supaya mereka takut dan tidak mengejekmu lagi. Dan alasan kenapa kamu melakukannya meskipun tidak ada yang mengejek adalah untuk menghindar dari apapun yang tidak mau kamu temui. Contohnya ketika presentasi. Ternyata acting kamu itu juga sering kamu manfaatkan untuk itu, terutama bila kamu kurang hafal dengan tugas kamu. Daripada harus berada di depan kelas dan mendapat perhatian dari seluruh anggota kelas, kamu lebih memilih untuk berakting yang ujung-ujungnya adalah pulang kerumah. Padahal, teman-temanmu tidak malah menjadi simpati, tapi mereka malah takut dan bahkan ada yang membencimu karena kamu terlalu berlebihan dan di buat-buat. Sekarang kamu puas?” tambah Tata.

          Nilam tidak dapat membantah lagi. Wajahnya langsung murung dan gugup. Tapi Ifi dan Tata langsung menyuruhnya duduk. Mereka menenangkannya dan berjanji tidak akan menceritakan yang sebenarnya jika ia mau jujur. Akhirnya Nilam mengakui kebohongan yang selama ini ia lakukan. Janji harus dibayar dengan janji. Janji Ifi dan Tata adalah tidak menceritakan tentang kebohongan Nilam kesiapapun sedangkan janji Nilam adalah tidak melakukan hal bodoh itu lagi apapun alasannya.

          Tugas dari si detektif gadungan ini rupanya telah usai. Namun mereka lebih memilih menyimpan aksi mereka itu daripada memproklamirkannya. Kalian tahu alasannya? Agar semua orang tidak tahu keahlian mereka dan akhirnya tidak ada orang yang tahu bahwa rahasia mereka telah bongkar oleh para detektif gadungan ini. Karena bangkai itu memiliki bau yang sangat khas. Dan setiap orang pasti menyadari keberadaannya meskipun hanya baunya saja. Jika kalian ingin tahu kebenarannya dan bukan hanya baunya saja, tentunya kalian tau harus menghubungi siapa. Si Detektif Ala Pelajar.

         

  

Detektif Ala Pelajar

Oleh : Vicky Roh Idhofi

 

  “Ada komik detektif yang terbaru gak?”

  “Gak ada Fi.” jawab Tata  sambil terus membaca buku yang ada di tangannya.

  “ Terus itu apa.? pasti novel cinta-cintaan.” cetus Ifi.

  “Judulnya Omen, ceritanya tentang pembunuhan berantai githu, mau? Ya pastilah, kamu kan sukanya yang serem-serem dan menantang.”

  “Boleh juga, cepetan selesain gih!”

          Begitulah keseharian 2 orang gadis yang mempunyai selera buku yang sama. Tentu saja tentang detektif ataupun pemecahan suatu misteri. Yaps.. bukan buku milik mereka sendiri tentunya, mereka bukanlah anak yang suka menghabiskan uang demi sesuatu yang hanya sekali pakai seperti komik misalnya. Lebih baik meminjam di penyewaan daripada membelinya dan tentu harus merawat buku itu.

  “Ta, kamu tahu Sherlock Holmes? Si detektif keren yang sering aku ceritakan itu lho.” tanya  Ifi.

  “Tokoh novel terjemahan yang tebel itu?”

  “Ho’oh, Juwi punya filmnya lho. Katanya lebih bagus filmnya daripada novelnya. Lihat yuk!”

  “Mana filmnya? Paling kamu belum minta ke dia.” cetus Tata.

  “Hehehe belum minta sih, aku kan gak punya flash disk.”

  “Gak punya flashdisk atau kamu mulai kemarin lupa minta filmnya?”

  “Dua-duanya sih, kamu aja deh yang minta.” rayu Ifi.

  “Dasar nenek-nenek pelupa…” tambah Tata.

          Cara berpikir kedua gadis ini rupanya sudah terseret oleh buku-buku detektif yang sering mereka baca. Bergaya sok detektif dan menyelesaikann hal sepele dengan gaya berlebihan pun sering mereka lakukan. Mulai dari yang terpecahkan hingga yang tidak dapat terpecahkan. Tapi memang lebih banyak misteri yang tidak terpecahkan sih. Seperti memecahkan misteri isi dari laci di meja guru yang terkunci sedangkan yang lainnya tidak atau menemukan kebenaran tentang arwah cewek yang terus mengikuti guru Bahasa Jerman mereka. Bahkan lebih banyak lagi misteri yang tidak pernah terpecahkan oleh mereka. Namun hal itu tidak mematahkan semangat detektif mereka.Tata yang begitu supel dan Ifi yang begitu terperinci membuat mereka dapat memecahkan beberapa misteri. Seperti misteri tulisan corat-coret di kertas scenario syuting kelas misalnya. Karena Tata si miss supel, mereka bias tau siapa yang menulis dan untuk siapa tulisan itu dan karena Ifi si miss detail, mereka bias membaca dan mengartikan tulisan yang sudah terhapus dan dicorat-coret itu.

          Sudah beberapa bulan ini mereka tidak beraksi. Pekerjaan mereka hanya membaca novel atau komik saja. Hidup mereka begitu datar dan tidak ada kebanggaan tersendiri karena tidak ada misteri yang perlu dipecahkan lagi. Mungkin mereka terlalu berlebihan menyikapi suatu hal, tapi disitulah kenikmatan yang didapat. Terutama ketika mendapat informasi baru yang berasal dari pencarian kita sendiri, pasti akan memunculkan rasa puas. Begitulah mereka.

  “Aku bunuh kau!! Aku bunuh kau!!”

“aaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaa aaaaaaaa” teriak anak-anak satu kelas.

  “Apa’an sih? Ganggu orang tidur aja.” gumam Ifi.

  “Hei. Jangan tidur lagi, ada anak marah tuh.”

  “Siapa sich? Aku udach nyampek Jakarta lho ini tadi.”

  “Emank kamu doang, aku juga tau!” balas Tata.

  “Kayaknya aku tau orangnya deh. Nilam ya?”

  “Ya jelas kamu tau, orang dia lagi dikerumuni sama anak-anak.”

  “Iya juga ya..” aku Ifi malu-malu.

   “Liat yuk, siapa tau ada misteri yang sedang menunggu untuk dipecahkan.” ajak Tata.

          Tidak jelas apa yang sedang terjadi waktu itu. Nilam teman sekelas mereka yang memang terkenal pendiam itu tiba-tiba saja marah dan mengancam akan membunuh siapapun yang mengejeknya sekecil apa pun itu. Tapi yang jelas, insting detektif itu muncul kembali dan mendesak mereka berdua agar segera menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.

          Sudah sekitar seminggu Nilam tidak masuk sekolah. Surat ijinnya mengatakan bahwa ia sakit. Jadi, Ifi mempunyai ide untuk menjenguknya bersama teman-teman satu kelas. Tapi ternyata hanya Tata yang menanggapi dan mau untuk ikut kerumah Nilam. Tidak masalah, yang penting mereka mau iuran untuk membelikan Nilam sesuatu saja sudah sangat cukup bagi Ifi dan Tata.

          Sepulang sekolah, mereka langsung pergi ke rumah Nilam, tapi sebelumnya mereka mampir untuk membeli buah tangan untuknya terlebih dahulu. Sebenarnya, mereka tidak tahu pasti dimana rumah Nilam. Jadi, ketika sampai di daerah yang dimaksud, mereka sedikit bingung menemukan rumahnya dari deretan rumah bergaya antik yang sebenarnya tidak terlalu padat itu.

          Sesampainya di rumah Nilam mereka tidak merasakan hal-hal yang aneh. Semua anggota keluarga Nilam menyambut kita dengan ramah dan senyuman selebar mungkin. Sebenarnya apa yang membuat Nilam begitu aneh dan histeris? Keluarga? Tidak mungkin bila melihat keluarga seramah itu. Begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab di benak Tata dan Ifi. Bukan hanya itu, pertanyaan mereka semakin besar saja ketika Nilam tidak muncul juga. Memang menunggu bukanlah hal yang menyenangkan. Mereka berdua Cuma bias menngamati gaya rumahnya yang sangat sederhana. Akan tetapi rumah itu dipenuhi dengan karya seni hasil karya anggota keluarga itu sendiri. Mulai dari pintu hingga dinding dipenuhi dengan coretan-coretan warna yang tersusun rapi.

          Hanya ada kita berdua di ruang tamu. Hening. Namun keheningan itu musnah ketika terdengar suara teriakan-teriakan yang berasal dari dalam ruangan. Teriakan itu diikuti dengan ayah Nilam yang berlari menuju ruangan itu. Ifi dan Tata hanya bisa saling menatap satu sama lain tanpa berkomentar. Ingin rasanya mereka ikut berlari dan melihat apa yang terjadi. Tapi mereka memutuskan untuk tetap diam di tempat dan kembali meneguk minuman yang telah di sediakan. Tidak lama kemudian, ayah Nilam keluar dan bilang “kumat mbak,” dalam bahasa jawa.

  “Jangan-jangan kejadian yang dikelas terulang kembali.” kata Tata.

  “Aku juga mikir gitu, tapi jujur saja ya, aku tidak terlalu percaya dan yakin.”

  “Sebenarnya aku juga sih Fi.”

  “Kalau gitu, setelah ini kita pulang dan menyelidikinya.” Ajak Ifi.

          Ketika mereka memutuskan untuk pulang, tiba-tiba Nilam keluar menghampiri mereka dengan langkah yang tergopoh-gopoh bersama ayah dan ibunya. Yang tercerminkan dibenak Ifi dan Tata adalah dia bukan sakit biasa. Setelah sekian lama berbincang dengan orang tua Nilam yang kelihatannya sangat menyayangkan keadaan Nilam yang sekarang, mereka memutuskan untuk segera pulang.

  “Ya udah tante, kita pamit pulang dulu ya, sudah sore nih kasian Ifi rumahnya jauh dari sini.”

  “oh silahkan nak, hati-hati dijalan ya.”

          Selangkah demi langkah mereka lalui dari pintu rumah Nilam dengan gumaman-gumaman pemecahan masalah.

  “Kamu tau nggak ciri-ciri orang yang menderita syndrome seperti Nilam?” Tanya Tata.

  “Suara berubah ketika kambuh, pandangan mata kosong dan bicaranya ngawur. Tapi Nilam tadi…”

  “Ternyata kamu juga tau, tapi kenapa orang tuanya tidak sadar akan hal itu?”

  “Mereka kan orang awam, dan pendidikan mereka juga tidak terlalu tinggi.”

  “Jadi……” kata mereka bersamaan.

          Mereka langsung berlari kembali kerumah Nilam dan menemukan Nilam sedang menonton TV sendirian. Untunglah keteledoran Ifi sangat membantu kali ini. Seperti biasa, kunci sepeda motor mereka tertinggal di ruang tamu, itu bisa di andalkan sebagai alasan untuk kembali masuk dan memergoki Nilam.

  “Apa yang kalian lakukan disini.?? Bukannya tadi sudah pulang?” tanya Nilam ramah.

  “Biasalah, si Ifi teledor nih, kunci motor kita ketinggalan.”

  “Tapi kan ada untungnya juga.” cetus Ifi bangga.

  “Bisa diam gak?” kata Tata.

  “uups keceplosan, ma’af Ta.” jawab Ifi.

  “Ada apa sich ini? Aku gak ngerti deh.”

  “Sebenarnya, kamu itu kenapa sich? Sakit? Kok sakitnya aneh.” tanya Tata.

  “Aku juga gak tau, kalau ada anak yang membuat perasaanku terganggu, aku langsung kambuh dan histeris. Tapi aku tidak tahu.” jawab Nilam.

  “Kalau aku bilang kamu bohong, penipu dan pinter acting gimana?”cetus Ifi.

  “Maksud kamu apa Fi?”

  “Ya kamu adalah artis baru di sekolah dan di lingkungan rumahmu.” tambah Ifi.

          Entah apa yang Ifi dan Tata rencanakan. Mereka terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang aneh. Tapi Nilam menanggapinya dengan santai dan menjawabnya dengan sedetail mungkin.

  “Aku juga tidak tau kenapa itu terjadi dan setelah sadar, aku tidak mengingat segala sesuatu yang telah terjadi.” jelas Nilam.

  “Kamu memang artis yang sangat luar biasa.”kata Tata.

  “Sekarang aku tahu maksud kalian, kalian menuduhku berpura-pura. Tapi aku beneran sakit.!”

  “ Oh ya?? Terus kenapa sekarang kamu tidak kambuh? Udah sembuh? Cepet banget.” cetus Ifi.

  “Yaa aku.. sekarang lagi gak kepikiran atau marah. Lagian kamu tau darimana kalau aku cuma pura-pura?”

  “Dari gaya ngomong kamu ketika kambuh sama seperti gaya bicara yang seperti biasa, pandangan kamu tidak kosong dan masih terarah dengan baik. Itu dapat dilihat dari cara kamu memandang. Pupil matamu tidak tetap melainkan membesar dan mengecil, itu berarti kamu berusaha mengontrol pandanganmu agar terlihat kosong. Dan dari segi suara, suara orang yang memiliki syndrome tersebut jika kambuh akan berubah menjadi lebih kecil atau lebih besar, tapi suaramu ketika kambuh cenderung di lantangkan dan terkadang di tahan agar terdengar berbeda dari biasanya. Itu terlihat dari nada suaramu yang kadang terdengar fales ketika mulai menggeram sebelum berteriak sedangkan suara geraman yang benar adalah serak bukan besar cenderung fales. Dan yang paling memperkuat alibi kami adalah kamu tidak benar-benar pingsan ketika kambuh. Orang yang pingsan, akan terjatuh ke posisi depan, belakang atau ke kiri karena bagian tubuh sebelah kiri lebih lemah dari bagian kanan dan tidak dapat menopang tubuh. Tapi kamu malah sering jatuh ke sebelah kanan dan kenapa kamu tidak memilih depan atau belakang? Jawabannya adalah kamu takut menanggung resiko sakit ketika jatuh pingsan. Masih kurang?” jelas Ifi.

  “Tapi hal itu sangat bodoh dan kenapa aku harus melakukan hal itu?”

  “Jawabannya sangat mudah. Itu karena kamu ingin mendapat perhatian dari semua orang. Karena faktanya, kamu jarang dan hampir tidak pernah dihiraukan oleh teman-temanmu. Jadi kamu melakukan hal ini untuk mendapat simpati dari teman-temanmu. Selain itu, kamu juga tidak mau ada yang merendahkanmu di segala bidang. Setiap ada anak yang membicarakan kamu, kamu langsung kambuh dan marah bahkan mengancam untuk membunuh mereka. Itu semua kamu lakukan supaya mereka takut dan tidak mengejekmu lagi. Dan alasan kenapa kamu melakukannya meskipun tidak ada yang mengejek adalah untuk menghindar dari apapun yang tidak mau kamu temui. Contohnya ketika presentasi. Ternyata acting kamu itu juga sering kamu manfaatkan untuk itu, terutama bila kamu kurang hafal dengan tugas kamu. Daripada harus berada di depan kelas dan mendapat perhatian dari seluruh anggota kelas, kamu lebih memilih untuk berakting yang ujung-ujungnya adalah pulang kerumah. Padahal, teman-temanmu tidak malah menjadi simpati, tapi mereka malah takut dan bahkan ada yang membencimu karena kamu terlalu berlebihan dan di buat-buat. Sekarang kamu puas?” tambah Tata.

          Nilam tidak dapat membantah lagi. Wajahnya langsung murung dan gugup. Tapi Ifi dan Tata langsung menyuruhnya duduk. Mereka menenangkannya dan berjanji tidak akan menceritakan yang sebenarnya jika ia mau jujur. Akhirnya Nilam mengakui kebohongan yang selama ini ia lakukan. Janji harus dibayar dengan janji. Janji Ifi dan Tata adalah tidak menceritakan tentang kebohongan Nilam kesiapapun sedangkan janji Nilam adalah tidak melakukan hal bodoh itu lagi apapun alasannya.

          Tugas dari si detektif gadungan ini rupanya telah usai. Namun mereka lebih memilih menyimpan aksi mereka itu daripada memproklamirkannya. Kalian tahu alasannya? Agar semua orang tidak tahu keahlian mereka dan akhirnya tidak ada orang yang tahu bahwa rahasia mereka telah bongkar oleh para detektif gadungan ini. Karena bangkai itu memiliki bau yang sangat khas. Dan setiap orang pasti menyadari keberadaannya meskipun hanya baunya saja. Jika kalian ingin tahu kebenarannya dan bukan hanya baunya saja, tentunya kalian tau harus menghubungi siapa. Si Detektif Ala Pelajar.

         

  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sampingan

Detektif Ala Pelajaroleh:rhystu anggi   “Ada komik detektif yang

Detektif Ala Pelajar

oleh:rhystu anggi

 

  “Ada komik detektif yang terbaru gak?”

  “Gak ada Fi.” jawab Tata  sambil terus membaca buku yang ada di tangannya.

  “ Terus itu apa.? pasti novel cinta-cintaan.” cetus Ifi.

  “Judulnya Omen, ceritanya tentang pembunuhan berantai githu, mau? Ya pastilah, kamu kan sukanya yang serem-serem dan menantang.”

  “Boleh juga, cepetan selesain gih!”

          Begitulah keseharian 2 orang gadis yang mempunyai selera buku yang sama. Tentu saja tentang detektif ataupun pemecahan suatu misteri. Yaps.. bukan buku milik mereka sendiri tentunya, mereka bukanlah anak yang suka menghabiskan uang demi sesuatu yang hanya sekali pakai seperti komik misalnya. Lebih baik meminjam di penyewaan daripada membelinya dan tentu harus merawat buku itu.

  “Ta, kamu tahu Sherlock Holmes? Si detektif keren yang sering aku ceritakan itu lho.” tanya  Ifi.

  “Tokoh novel terjemahan yang tebel itu?”

  “Ho’oh, Juwi punya filmnya lho. Katanya lebih bagus filmnya daripada novelnya. Lihat yuk!”

  “Mana filmnya? Paling kamu belum minta ke dia.” cetus Tata.

  “Hehehe belum minta sih, aku kan gak punya flash disk.”

  “Gak punya flashdisk atau kamu mulai kemarin lupa minta filmnya?”

  “Dua-duanya sih, kamu aja deh yang minta.” rayu Ifi.

  “Dasar nenek-nenek pelupa…” tambah Tata.

          Cara berpikir kedua gadis ini rupanya sudah terseret oleh buku-buku detektif yang sering mereka baca. Bergaya sok detektif dan menyelesaikann hal sepele dengan gaya berlebihan pun sering mereka lakukan. Mulai dari yang terpecahkan hingga yang tidak dapat terpecahkan. Tapi memang lebih banyak misteri yang tidak terpecahkan sih. Seperti memecahkan misteri isi dari laci di meja guru yang terkunci sedangkan yang lainnya tidak atau menemukan kebenaran tentang arwah cewek yang terus mengikuti guru Bahasa Jerman mereka. Bahkan lebih banyak lagi misteri yang tidak pernah terpecahkan oleh mereka. Namun hal itu tidak mematahkan semangat detektif mereka.Tata yang begitu supel dan Ifi yang begitu terperinci membuat mereka dapat memecahkan beberapa misteri. Seperti misteri tulisan corat-coret di kertas scenario syuting kelas misalnya. Karena Tata si miss supel, mereka bias tau siapa yang menulis dan untuk siapa tulisan itu dan karena Ifi si miss detail, mereka bias membaca dan mengartikan tulisan yang sudah terhapus dan dicorat-coret itu.

          Sudah beberapa bulan ini mereka tidak beraksi. Pekerjaan mereka hanya membaca novel atau komik saja. Hidup mereka begitu datar dan tidak ada kebanggaan tersendiri karena tidak ada misteri yang perlu dipecahkan lagi. Mungkin mereka terlalu berlebihan menyikapi suatu hal, tapi disitulah kenikmatan yang didapat. Terutama ketika mendapat informasi baru yang berasal dari pencarian kita sendiri, pasti akan memunculkan rasa puas. Begitulah mereka.

  “Aku bunuh kau!! Aku bunuh kau!!”

“aaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaa aaaaaaaa” teriak anak-anak satu kelas.

  “Apa’an sih? Ganggu orang tidur aja.” gumam Ifi.

  “Hei. Jangan tidur lagi, ada anak marah tuh.”

  “Siapa sich? Aku udach nyampek Jakarta lho ini tadi.”

  “Emank kamu doang, aku juga tau!” balas Tata.

  “Kayaknya aku tau orangnya deh. Nilam ya?”

  “Ya jelas kamu tau, orang dia lagi dikerumuni sama anak-anak.”

  “Iya juga ya..” aku Ifi malu-malu.

   “Liat yuk, siapa tau ada misteri yang sedang menunggu untuk dipecahkan.” ajak Tata.

          Tidak jelas apa yang sedang terjadi waktu itu. Nilam teman sekelas mereka yang memang terkenal pendiam itu tiba-tiba saja marah dan mengancam akan membunuh siapapun yang mengejeknya sekecil apa pun itu. Tapi yang jelas, insting detektif itu muncul kembali dan mendesak mereka berdua agar segera menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.

          Sudah sekitar seminggu Nilam tidak masuk sekolah. Surat ijinnya mengatakan bahwa ia sakit. Jadi, Ifi mempunyai ide untuk menjenguknya bersama teman-teman satu kelas. Tapi ternyata hanya Tata yang menanggapi dan mau untuk ikut kerumah Nilam. Tidak masalah, yang penting mereka mau iuran untuk membelikan Nilam sesuatu saja sudah sangat cukup bagi Ifi dan Tata.

          Sepulang sekolah, mereka langsung pergi ke rumah Nilam, tapi sebelumnya mereka mampir untuk membeli buah tangan untuknya terlebih dahulu. Sebenarnya, mereka tidak tahu pasti dimana rumah Nilam. Jadi, ketika sampai di daerah yang dimaksud, mereka sedikit bingung menemukan rumahnya dari deretan rumah bergaya antik yang sebenarnya tidak terlalu padat itu.

          Sesampainya di rumah Nilam mereka tidak merasakan hal-hal yang aneh. Semua anggota keluarga Nilam menyambut kita dengan ramah dan senyuman selebar mungkin. Sebenarnya apa yang membuat Nilam begitu aneh dan histeris? Keluarga? Tidak mungkin bila melihat keluarga seramah itu. Begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab di benak Tata dan Ifi. Bukan hanya itu, pertanyaan mereka semakin besar saja ketika Nilam tidak muncul juga. Memang menunggu bukanlah hal yang menyenangkan. Mereka berdua Cuma bias menngamati gaya rumahnya yang sangat sederhana. Akan tetapi rumah itu dipenuhi dengan karya seni hasil karya anggota keluarga itu sendiri. Mulai dari pintu hingga dinding dipenuhi dengan coretan-coretan warna yang tersusun rapi.

          Hanya ada kita berdua di ruang tamu. Hening. Namun keheningan itu musnah ketika terdengar suara teriakan-teriakan yang berasal dari dalam ruangan. Teriakan itu diikuti dengan ayah Nilam yang berlari menuju ruangan itu. Ifi dan Tata hanya bisa saling menatap satu sama lain tanpa berkomentar. Ingin rasanya mereka ikut berlari dan melihat apa yang terjadi. Tapi mereka memutuskan untuk tetap diam di tempat dan kembali meneguk minuman yang telah di sediakan. Tidak lama kemudian, ayah Nilam keluar dan bilang “kumat mbak,” dalam bahasa jawa.

  “Jangan-jangan kejadian yang dikelas terulang kembali.” kata Tata.

  “Aku juga mikir gitu, tapi jujur saja ya, aku tidak terlalu percaya dan yakin.”

  “Sebenarnya aku juga sih Fi.”

  “Kalau gitu, setelah ini kita pulang dan menyelidikinya.” Ajak Ifi.

          Ketika mereka memutuskan untuk pulang, tiba-tiba Nilam keluar menghampiri mereka dengan langkah yang tergopoh-gopoh bersama ayah dan ibunya. Yang tercerminkan dibenak Ifi dan Tata adalah dia bukan sakit biasa. Setelah sekian lama berbincang dengan orang tua Nilam yang kelihatannya sangat menyayangkan keadaan Nilam yang sekarang, mereka memutuskan untuk segera pulang.

  “Ya udah tante, kita pamit pulang dulu ya, sudah sore nih kasian Ifi rumahnya jauh dari sini.”

  “oh silahkan nak, hati-hati dijalan ya.”

          Selangkah demi langkah mereka lalui dari pintu rumah Nilam dengan gumaman-gumaman pemecahan masalah.

  “Kamu tau nggak ciri-ciri orang yang menderita syndrome seperti Nilam?” Tanya Tata.

  “Suara berubah ketika kambuh, pandangan mata kosong dan bicaranya ngawur. Tapi Nilam tadi…”

  “Ternyata kamu juga tau, tapi kenapa orang tuanya tidak sadar akan hal itu?”

  “Mereka kan orang awam, dan pendidikan mereka juga tidak terlalu tinggi.”

  “Jadi……” kata mereka bersamaan.

          Mereka langsung berlari kembali kerumah Nilam dan menemukan Nilam sedang menonton TV sendirian. Untunglah keteledoran Ifi sangat membantu kali ini. Seperti biasa, kunci sepeda motor mereka tertinggal di ruang tamu, itu bisa di andalkan sebagai alasan untuk kembali masuk dan memergoki Nilam.

  “Apa yang kalian lakukan disini.?? Bukannya tadi sudah pulang?” tanya Nilam ramah.

  “Biasalah, si Ifi teledor nih, kunci motor kita ketinggalan.”

  “Tapi kan ada untungnya juga.” cetus Ifi bangga.

  “Bisa diam gak?” kata Tata.

  “uups keceplosan, ma’af Ta.” jawab Ifi.

  “Ada apa sich ini? Aku gak ngerti deh.”

  “Sebenarnya, kamu itu kenapa sich? Sakit? Kok sakitnya aneh.” tanya Tata.

  “Aku juga gak tau, kalau ada anak yang membuat perasaanku terganggu, aku langsung kambuh dan histeris. Tapi aku tidak tahu.” jawab Nilam.

  “Kalau aku bilang kamu bohong, penipu dan pinter acting gimana?”cetus Ifi.

  “Maksud kamu apa Fi?”

  “Ya kamu adalah artis baru di sekolah dan di lingkungan rumahmu.” tambah Ifi.

          Entah apa yang Ifi dan Tata rencanakan. Mereka terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang aneh. Tapi Nilam menanggapinya dengan santai dan menjawabnya dengan sedetail mungkin.

  “Aku juga tidak tau kenapa itu terjadi dan setelah sadar, aku tidak mengingat segala sesuatu yang telah terjadi.” jelas Nilam.

  “Kamu memang artis yang sangat luar biasa.”kata Tata.

  “Sekarang aku tahu maksud kalian, kalian menuduhku berpura-pura. Tapi aku beneran sakit.!”

  “ Oh ya?? Terus kenapa sekarang kamu tidak kambuh? Udah sembuh? Cepet banget.” cetus Ifi.

  “Yaa aku.. sekarang lagi gak kepikiran atau marah. Lagian kamu tau darimana kalau aku cuma pura-pura?”

  “Dari gaya ngomong kamu ketika kambuh sama seperti gaya bicara yang seperti biasa, pandangan kamu tidak kosong dan masih terarah dengan baik. Itu dapat dilihat dari cara kamu memandang. Pupil matamu tidak tetap melainkan membesar dan mengecil, itu berarti kamu berusaha mengontrol pandanganmu agar terlihat kosong. Dan dari segi suara, suara orang yang memiliki syndrome tersebut jika kambuh akan berubah menjadi lebih kecil atau lebih besar, tapi suaramu ketika kambuh cenderung di lantangkan dan terkadang di tahan agar terdengar berbeda dari biasanya. Itu terlihat dari nada suaramu yang kadang terdengar fales ketika mulai menggeram sebelum berteriak sedangkan suara geraman yang benar adalah serak bukan besar cenderung fales. Dan yang paling memperkuat alibi kami adalah kamu tidak benar-benar pingsan ketika kambuh. Orang yang pingsan, akan terjatuh ke posisi depan, belakang atau ke kiri karena bagian tubuh sebelah kiri lebih lemah dari bagian kanan dan tidak dapat menopang tubuh. Tapi kamu malah sering jatuh ke sebelah kanan dan kenapa kamu tidak memilih depan atau belakang? Jawabannya adalah kamu takut menanggung resiko sakit ketika jatuh pingsan. Masih kurang?” jelas Ifi.

  “Tapi hal itu sangat bodoh dan kenapa aku harus melakukan hal itu?”

  “Jawabannya sangat mudah. Itu karena kamu ingin mendapat perhatian dari semua orang. Karena faktanya, kamu jarang dan hampir tidak pernah dihiraukan oleh teman-temanmu. Jadi kamu melakukan hal ini untuk mendapat simpati dari teman-temanmu. Selain itu, kamu juga tidak mau ada yang merendahkanmu di segala bidang. Setiap ada anak yang membicarakan kamu, kamu langsung kambuh dan marah bahkan mengancam untuk membunuh mereka. Itu semua kamu lakukan supaya mereka takut dan tidak mengejekmu lagi. Dan alasan kenapa kamu melakukannya meskipun tidak ada yang mengejek adalah untuk menghindar dari apapun yang tidak mau kamu temui. Contohnya ketika presentasi. Ternyata acting kamu itu juga sering kamu manfaatkan untuk itu, terutama bila kamu kurang hafal dengan tugas kamu. Daripada harus berada di depan kelas dan mendapat perhatian dari seluruh anggota kelas, kamu lebih memilih untuk berakting yang ujung-ujungnya adalah pulang kerumah. Padahal, teman-temanmu tidak malah menjadi simpati, tapi mereka malah takut dan bahkan ada yang membencimu karena kamu terlalu berlebihan dan di buat-buat. Sekarang kamu puas?” tambah Tata.

          Nilam tidak dapat membantah lagi. Wajahnya langsung murung dan gugup. Tapi Ifi dan Tata langsung menyuruhnya duduk. Mereka menenangkannya dan berjanji tidak akan menceritakan yang sebenarnya jika ia mau jujur. Akhirnya Nilam mengakui kebohongan yang selama ini ia lakukan. Janji harus dibayar dengan janji. Janji Ifi dan Tata adalah tidak menceritakan tentang kebohongan Nilam kesiapapun sedangkan janji Nilam adalah tidak melakukan hal bodoh itu lagi apapun alasannya.

          Tugas dari si detektif gadungan ini rupanya telah usai. Namun mereka lebih memilih menyimpan aksi mereka itu daripada memproklamirkannya. Kalian tahu alasannya? Agar semua orang tidak tahu keahlian mereka dan akhirnya tidak ada orang yang tahu bahwa rahasia mereka telah bongkar oleh para detektif gadungan ini. Karena bangkai itu memiliki bau yang sangat khas. Dan setiap orang pasti menyadari keberadaannya meskipun hanya baunya saja. Jika kalian ingin tahu kebenarannya dan bukan hanya baunya saja, tentunya kalian tau harus menghubungi siapa. Si Detektif Ala Pelajar.

         

  

Detektif Ala Pelajar

Oleh : Vicky Roh Idhofi

 

  “Ada komik detektif yang terbaru gak?”

  “Gak ada Fi.” jawab Tata  sambil terus membaca buku yang ada di tangannya.

  “ Terus itu apa.? pasti novel cinta-cintaan.” cetus Ifi.

  “Judulnya Omen, ceritanya tentang pembunuhan berantai githu, mau? Ya pastilah, kamu kan sukanya yang serem-serem dan menantang.”

  “Boleh juga, cepetan selesain gih!”

          Begitulah keseharian 2 orang gadis yang mempunyai selera buku yang sama. Tentu saja tentang detektif ataupun pemecahan suatu misteri. Yaps.. bukan buku milik mereka sendiri tentunya, mereka bukanlah anak yang suka menghabiskan uang demi sesuatu yang hanya sekali pakai seperti komik misalnya. Lebih baik meminjam di penyewaan daripada membelinya dan tentu harus merawat buku itu.

  “Ta, kamu tahu Sherlock Holmes? Si detektif keren yang sering aku ceritakan itu lho.” tanya  Ifi.

  “Tokoh novel terjemahan yang tebel itu?”

  “Ho’oh, Juwi punya filmnya lho. Katanya lebih bagus filmnya daripada novelnya. Lihat yuk!”

  “Mana filmnya? Paling kamu belum minta ke dia.” cetus Tata.

  “Hehehe belum minta sih, aku kan gak punya flash disk.”

  “Gak punya flashdisk atau kamu mulai kemarin lupa minta filmnya?”

  “Dua-duanya sih, kamu aja deh yang minta.” rayu Ifi.

  “Dasar nenek-nenek pelupa…” tambah Tata.

          Cara berpikir kedua gadis ini rupanya sudah terseret oleh buku-buku detektif yang sering mereka baca. Bergaya sok detektif dan menyelesaikann hal sepele dengan gaya berlebihan pun sering mereka lakukan. Mulai dari yang terpecahkan hingga yang tidak dapat terpecahkan. Tapi memang lebih banyak misteri yang tidak terpecahkan sih. Seperti memecahkan misteri isi dari laci di meja guru yang terkunci sedangkan yang lainnya tidak atau menemukan kebenaran tentang arwah cewek yang terus mengikuti guru Bahasa Jerman mereka. Bahkan lebih banyak lagi misteri yang tidak pernah terpecahkan oleh mereka. Namun hal itu tidak mematahkan semangat detektif mereka.Tata yang begitu supel dan Ifi yang begitu terperinci membuat mereka dapat memecahkan beberapa misteri. Seperti misteri tulisan corat-coret di kertas scenario syuting kelas misalnya. Karena Tata si miss supel, mereka bias tau siapa yang menulis dan untuk siapa tulisan itu dan karena Ifi si miss detail, mereka bias membaca dan mengartikan tulisan yang sudah terhapus dan dicorat-coret itu.

          Sudah beberapa bulan ini mereka tidak beraksi. Pekerjaan mereka hanya membaca novel atau komik saja. Hidup mereka begitu datar dan tidak ada kebanggaan tersendiri karena tidak ada misteri yang perlu dipecahkan lagi. Mungkin mereka terlalu berlebihan menyikapi suatu hal, tapi disitulah kenikmatan yang didapat. Terutama ketika mendapat informasi baru yang berasal dari pencarian kita sendiri, pasti akan memunculkan rasa puas. Begitulah mereka.

  “Aku bunuh kau!! Aku bunuh kau!!”

“aaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaa aaaaaaaa” teriak anak-anak satu kelas.

  “Apa’an sih? Ganggu orang tidur aja.” gumam Ifi.

  “Hei. Jangan tidur lagi, ada anak marah tuh.”

  “Siapa sich? Aku udach nyampek Jakarta lho ini tadi.”

  “Emank kamu doang, aku juga tau!” balas Tata.

  “Kayaknya aku tau orangnya deh. Nilam ya?”

  “Ya jelas kamu tau, orang dia lagi dikerumuni sama anak-anak.”

  “Iya juga ya..” aku Ifi malu-malu.

   “Liat yuk, siapa tau ada misteri yang sedang menunggu untuk dipecahkan.” ajak Tata.

          Tidak jelas apa yang sedang terjadi waktu itu. Nilam teman sekelas mereka yang memang terkenal pendiam itu tiba-tiba saja marah dan mengancam akan membunuh siapapun yang mengejeknya sekecil apa pun itu. Tapi yang jelas, insting detektif itu muncul kembali dan mendesak mereka berdua agar segera menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.

          Sudah sekitar seminggu Nilam tidak masuk sekolah. Surat ijinnya mengatakan bahwa ia sakit. Jadi, Ifi mempunyai ide untuk menjenguknya bersama teman-teman satu kelas. Tapi ternyata hanya Tata yang menanggapi dan mau untuk ikut kerumah Nilam. Tidak masalah, yang penting mereka mau iuran untuk membelikan Nilam sesuatu saja sudah sangat cukup bagi Ifi dan Tata.

          Sepulang sekolah, mereka langsung pergi ke rumah Nilam, tapi sebelumnya mereka mampir untuk membeli buah tangan untuknya terlebih dahulu. Sebenarnya, mereka tidak tahu pasti dimana rumah Nilam. Jadi, ketika sampai di daerah yang dimaksud, mereka sedikit bingung menemukan rumahnya dari deretan rumah bergaya antik yang sebenarnya tidak terlalu padat itu.

          Sesampainya di rumah Nilam mereka tidak merasakan hal-hal yang aneh. Semua anggota keluarga Nilam menyambut kita dengan ramah dan senyuman selebar mungkin. Sebenarnya apa yang membuat Nilam begitu aneh dan histeris? Keluarga? Tidak mungkin bila melihat keluarga seramah itu. Begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab di benak Tata dan Ifi. Bukan hanya itu, pertanyaan mereka semakin besar saja ketika Nilam tidak muncul juga. Memang menunggu bukanlah hal yang menyenangkan. Mereka berdua Cuma bias menngamati gaya rumahnya yang sangat sederhana. Akan tetapi rumah itu dipenuhi dengan karya seni hasil karya anggota keluarga itu sendiri. Mulai dari pintu hingga dinding dipenuhi dengan coretan-coretan warna yang tersusun rapi.

          Hanya ada kita berdua di ruang tamu. Hening. Namun keheningan itu musnah ketika terdengar suara teriakan-teriakan yang berasal dari dalam ruangan. Teriakan itu diikuti dengan ayah Nilam yang berlari menuju ruangan itu. Ifi dan Tata hanya bisa saling menatap satu sama lain tanpa berkomentar. Ingin rasanya mereka ikut berlari dan melihat apa yang terjadi. Tapi mereka memutuskan untuk tetap diam di tempat dan kembali meneguk minuman yang telah di sediakan. Tidak lama kemudian, ayah Nilam keluar dan bilang “kumat mbak,” dalam bahasa jawa.

  “Jangan-jangan kejadian yang dikelas terulang kembali.” kata Tata.

  “Aku juga mikir gitu, tapi jujur saja ya, aku tidak terlalu percaya dan yakin.”

  “Sebenarnya aku juga sih Fi.”

  “Kalau gitu, setelah ini kita pulang dan menyelidikinya.” Ajak Ifi.

          Ketika mereka memutuskan untuk pulang, tiba-tiba Nilam keluar menghampiri mereka dengan langkah yang tergopoh-gopoh bersama ayah dan ibunya. Yang tercerminkan dibenak Ifi dan Tata adalah dia bukan sakit biasa. Setelah sekian lama berbincang dengan orang tua Nilam yang kelihatannya sangat menyayangkan keadaan Nilam yang sekarang, mereka memutuskan untuk segera pulang.

  “Ya udah tante, kita pamit pulang dulu ya, sudah sore nih kasian Ifi rumahnya jauh dari sini.”

  “oh silahkan nak, hati-hati dijalan ya.”

          Selangkah demi langkah mereka lalui dari pintu rumah Nilam dengan gumaman-gumaman pemecahan masalah.

  “Kamu tau nggak ciri-ciri orang yang menderita syndrome seperti Nilam?” Tanya Tata.

  “Suara berubah ketika kambuh, pandangan mata kosong dan bicaranya ngawur. Tapi Nilam tadi…”

  “Ternyata kamu juga tau, tapi kenapa orang tuanya tidak sadar akan hal itu?”

  “Mereka kan orang awam, dan pendidikan mereka juga tidak terlalu tinggi.”

  “Jadi……” kata mereka bersamaan.

          Mereka langsung berlari kembali kerumah Nilam dan menemukan Nilam sedang menonton TV sendirian. Untunglah keteledoran Ifi sangat membantu kali ini. Seperti biasa, kunci sepeda motor mereka tertinggal di ruang tamu, itu bisa di andalkan sebagai alasan untuk kembali masuk dan memergoki Nilam.

  “Apa yang kalian lakukan disini.?? Bukannya tadi sudah pulang?” tanya Nilam ramah.

  “Biasalah, si Ifi teledor nih, kunci motor kita ketinggalan.”

  “Tapi kan ada untungnya juga.” cetus Ifi bangga.

  “Bisa diam gak?” kata Tata.

  “uups keceplosan, ma’af Ta.” jawab Ifi.

  “Ada apa sich ini? Aku gak ngerti deh.”

  “Sebenarnya, kamu itu kenapa sich? Sakit? Kok sakitnya aneh.” tanya Tata.

  “Aku juga gak tau, kalau ada anak yang membuat perasaanku terganggu, aku langsung kambuh dan histeris. Tapi aku tidak tahu.” jawab Nilam.

  “Kalau aku bilang kamu bohong, penipu dan pinter acting gimana?”cetus Ifi.

  “Maksud kamu apa Fi?”

  “Ya kamu adalah artis baru di sekolah dan di lingkungan rumahmu.” tambah Ifi.

          Entah apa yang Ifi dan Tata rencanakan. Mereka terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang aneh. Tapi Nilam menanggapinya dengan santai dan menjawabnya dengan sedetail mungkin.

  “Aku juga tidak tau kenapa itu terjadi dan setelah sadar, aku tidak mengingat segala sesuatu yang telah terjadi.” jelas Nilam.

  “Kamu memang artis yang sangat luar biasa.”kata Tata.

  “Sekarang aku tahu maksud kalian, kalian menuduhku berpura-pura. Tapi aku beneran sakit.!”

  “ Oh ya?? Terus kenapa sekarang kamu tidak kambuh? Udah sembuh? Cepet banget.” cetus Ifi.

  “Yaa aku.. sekarang lagi gak kepikiran atau marah. Lagian kamu tau darimana kalau aku cuma pura-pura?”

  “Dari gaya ngomong kamu ketika kambuh sama seperti gaya bicara yang seperti biasa, pandangan kamu tidak kosong dan masih terarah dengan baik. Itu dapat dilihat dari cara kamu memandang. Pupil matamu tidak tetap melainkan membesar dan mengecil, itu berarti kamu berusaha mengontrol pandanganmu agar terlihat kosong. Dan dari segi suara, suara orang yang memiliki syndrome tersebut jika kambuh akan berubah menjadi lebih kecil atau lebih besar, tapi suaramu ketika kambuh cenderung di lantangkan dan terkadang di tahan agar terdengar berbeda dari biasanya. Itu terlihat dari nada suaramu yang kadang terdengar fales ketika mulai menggeram sebelum berteriak sedangkan suara geraman yang benar adalah serak bukan besar cenderung fales. Dan yang paling memperkuat alibi kami adalah kamu tidak benar-benar pingsan ketika kambuh. Orang yang pingsan, akan terjatuh ke posisi depan, belakang atau ke kiri karena bagian tubuh sebelah kiri lebih lemah dari bagian kanan dan tidak dapat menopang tubuh. Tapi kamu malah sering jatuh ke sebelah kanan dan kenapa kamu tidak memilih depan atau belakang? Jawabannya adalah kamu takut menanggung resiko sakit ketika jatuh pingsan. Masih kurang?” jelas Ifi.

  “Tapi hal itu sangat bodoh dan kenapa aku harus melakukan hal itu?”

  “Jawabannya sangat mudah. Itu karena kamu ingin mendapat perhatian dari semua orang. Karena faktanya, kamu jarang dan hampir tidak pernah dihiraukan oleh teman-temanmu. Jadi kamu melakukan hal ini untuk mendapat simpati dari teman-temanmu. Selain itu, kamu juga tidak mau ada yang merendahkanmu di segala bidang. Setiap ada anak yang membicarakan kamu, kamu langsung kambuh dan marah bahkan mengancam untuk membunuh mereka. Itu semua kamu lakukan supaya mereka takut dan tidak mengejekmu lagi. Dan alasan kenapa kamu melakukannya meskipun tidak ada yang mengejek adalah untuk menghindar dari apapun yang tidak mau kamu temui. Contohnya ketika presentasi. Ternyata acting kamu itu juga sering kamu manfaatkan untuk itu, terutama bila kamu kurang hafal dengan tugas kamu. Daripada harus berada di depan kelas dan mendapat perhatian dari seluruh anggota kelas, kamu lebih memilih untuk berakting yang ujung-ujungnya adalah pulang kerumah. Padahal, teman-temanmu tidak malah menjadi simpati, tapi mereka malah takut dan bahkan ada yang membencimu karena kamu terlalu berlebihan dan di buat-buat. Sekarang kamu puas?” tambah Tata.

          Nilam tidak dapat membantah lagi. Wajahnya langsung murung dan gugup. Tapi Ifi dan Tata langsung menyuruhnya duduk. Mereka menenangkannya dan berjanji tidak akan menceritakan yang sebenarnya jika ia mau jujur. Akhirnya Nilam mengakui kebohongan yang selama ini ia lakukan. Janji harus dibayar dengan janji. Janji Ifi dan Tata adalah tidak menceritakan tentang kebohongan Nilam kesiapapun sedangkan janji Nilam adalah tidak melakukan hal bodoh itu lagi apapun alasannya.

          Tugas dari si detektif gadungan ini rupanya telah usai. Namun mereka lebih memilih menyimpan aksi mereka itu daripada memproklamirkannya. Kalian tahu alasannya? Agar semua orang tidak tahu keahlian mereka dan akhirnya tidak ada orang yang tahu bahwa rahasia mereka telah bongkar oleh para detektif gadungan ini. Karena bangkai itu memiliki bau yang sangat khas. Dan setiap orang pasti menyadari keberadaannya meskipun hanya baunya saja. Jika kalian ingin tahu kebenarannya dan bukan hanya baunya saja, tentunya kalian tau harus menghubungi siapa. Si Detektif Ala Pelajar.

         

  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s